![]() |
| Pertemuan Kepala BKPM Gita I Wirjawan dan Dubes RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin dengan sejumlah pimpinan organisasi kerja sama Indonesia-Rusia, Senin (12/9/2011) |
JAKARTA - MAZATIR POST - Hubungan dagang antara Indonesia dan Rusia belum terlalu mesra. Dalam catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), selama kurun waktu 10 tahun terakhir (2000-2010), total nilai investasi Rusia di Indonesia hanya 0.56 juta dollar AS. Nilai investasi ini masih kecil dibanding hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainnya.
"Meski pada semester pertama tahun 2011 nilai investasi dari Rusia mengalami perbaikan, tetap saja masih relatif kecil karena hanya naik menjadi 1.15 juta dollar AS," demikian laporan Jackson Kumaat di media hari ini. Jackson adalah politisi muda yang juga Kompasianer, yang menjadi peserta delegasi Indonesia ke Moskow Rusia dan Shanghai China, beberapa hari lalu.
Jackson mengungkapkan, tim delegasi Indonesia yang tampil mempresentasikan potensi daerahnya di Hotel SwissĂ´tel Krasnye Holmy Moskow Rusia, adalah Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundajang, Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, Sekretaris Daerah Kalimantan Timur Irianto Lambire, dan Kepala BKPMD Nusa Tenggara Barat Lalu Bayu Windia.
Acara tersebut dihadiri puluhan pengusaha Rusia dari berbagai sektor bisnis dan dibuka Dubes Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarus, Hamid Awaludin. Setelah presentasi, acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kondisi terkini perekonomian dan penanaman modal di Indonesia oleh Kepala BKPM Gita Wirjawan.
Menurut Jackson, hal yang menarik dalam diskusi ini adalah upaya meyakinkan pengusaha di Rusia tentang iklim investasi di Tanah Air. " Harus diakui, iklim investasi menjadi faktor utama jaminan kehadiran investor asing. Selain iklim sosial-politik dalam negeri, persoalan birokrasi menjadi topik bahasan yang menarik, untuk menjawab isu miring di kalangan investor asing," kata Jackson.
jackson menambahkan, media massa secara tidak langsung telah menjadi ujung tombak pintu investasi. Jika memberitakan hengkangnya perusahaan A di kota X di Indonesia karena kisruh atau rumitnya birokrasi, katanya, maka akan dianggap seluruh kota di Indonesia menutup pintu investasi. "Padahal belum tentu demikian, apalagi karakteristik tiap daerah di Indonesia berbeda-beda," katanya. (AG/MZT)




0 komentar:
Posting Komentar
Saran dan Kritik Anda...
Untuk Kemajuan Kami...